24 Juni 2020

Siapakah Anda Dimata Tuhan

Sebagai orang percaya, kita harus menemukan jawaban yang benar untuk menjawab pertanyaan di atas yaitu; “Siapakah Anda dimata Tuhan . . ?”. Sebab bila kita tidak mengerti siapakah diri kita yang sesungguhnya, maka hidup yang kita jalani saat ini akan menjadi sia-sia.

Firman Tuhan dalam 1 Korintus 6: 19 – 20, memberi jawaban atas pertanyaan ini, yang membuat kita menyadari saat ini bahwa ternyata hidup kita sudah bukan milik kita lagi, tetapi hidup kita adalah milik Kristus, karena kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.

Jadi apabila saat ini kalau kita masih merasa memiliki diri kita sendiri, maka kita telah berbuat kesalahan yang fatal, apalagi kalau kita mengaku sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, namun tidak menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang telah membeli dan membayar dengan lunas seluruh hidup kita, supaya kita menjadi milik-Nya.

Dengan menyadari siapakah diri kita ini maka;

  1. Hidup harus seturut dengan kehendak Tuhan dan tidak lagi hidup dalam keinginan diri sendiri.
  2. Menjaga hidup ini supaya tetap tinggal dalam kekudusan, dan menanggalkan semua Dosa
  3. Kita harusmenjadi seorang hamba yang taat dan setia.
  4. Tidak lagi hidup untuk kepentingan diri sendiri, tetapi hidup untuk Tuhan, yaitu menjadi berkat bagi banyak orang.

Sekarang yang menjadi pertanyaan penting yang harus kita sadari adalah; “Apakah untungnya bagi Tuhan sehingga Ia mau membeli dan membayar hidup kita dengan memberikan nyawa-Nya supaya kita bisa menjadi milik-Nya ?”.

Sesungguhnya tidak ada keuntungan sesuatu apapun bagi Tuhan saat Ia mau membeli hidup kita dengan sebuah harga yang sangat mahal, yaitu dengan darah-Nya yang kudus yang tak bercacat dan tak bernoda, bahkan Ia rela memberikan nyawa-Nya, hanya dengan satu tujuan yaitu supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.

Ini adalah sebuah kasih karunia yang tak ternilai harganya, sebab ternyata Tuhan mau membeli hidup kita bukan untuk kepentingan dirinya, tetapi karena belas kasihan Tuhan atas kita. Tuhan tidak ingin melihat manusia yang adalah ciptaan-Nya pada akhirnya harus binasa dalam api neraka yang kekal.

Lalu kalau Tuhan saja berpikir untuk kepentingan hidup kita dalam kekekalan, bagaimana mungkin kita saat ini masih hidup dalam dosa dan kecemaran, dan tidak merasa takut dan gentar dihadapan Tuhan ?.

Padahal dengan menyadari siapakah kita ini, maka seharusnya kita hidup hanya untuk memuliakan Tuhan dalam seluruh hidup kita. Bahkan dengan tubuh yang kita diami saat ini semuanya harus hanya untuk hormat dan kemuliaan Tuhan.

Satu hal yang tidak dapat kita pungkiri bahwa sampai detik ini seringkali kita masih hidup mengikuti keinginan hati kita sendiri. Seringkali kita masih ingin memiliki hidup kita sendiri dan belum mau sepenuhnya memberikan hidup ini kepada Tuhan. Padahal yang sesungguhnya hidup kita bukanlah milik kita lagi tetapi telah menjadi milik Kristus Yesus Tuhan.

Kalau kita masih ingin memiliki diri kita sendiri, sebenarnya kita telah mencuri apa yang bukan menjadi hak milik kita. Dengan mencuri kehidupan yang seharusnya menjadi milik Tuhan, dan tetap hidup menurut keingnan hawa nafsu dunia, maka sebenarnya tanpa sadar kita sedang mengarahkan diri kita berjalan menuju kegelapan dimana pada akhirnya akan terbuang dari hadapan Tuhan kedalam api neraka.

Sebenarnya kita bukan saja tidak lagi memiliki diri ini, tetapi selama kita hidup di dunia ini-pun, tidak ada seorang manusiapun yang tahu, kapan waktu Tuhan akan tiba atas hidupnya. Ini artinya kematian dapat menjemput setiap orang kapan saja dan dimana saja. Lalu bagaimana bila waktu Tuhan tiba detik ini juga atas diri kita, sementara kita masih tinggal didalam dosa, dan tidak sempat untuk bertobat ?

Satu hal yang harus terus kita ingat bahwa, upah dosa adalah maut. Jadi selama kita masih bernafas saat ini, jangan pernah menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan yang telah diberikan kepada kita. Belas kasihan Tuhan yang telah dinyatakan kepada kita haruslah kita terima dengan ucapan syukur yang tiada henti-hentinya.

Dunia hanya menawarkan apa yang menjadi kesenangan sesaat, tetapi pada akhirnya semua akan sia-sia. Untuk apa semua kesenangan dunia ini kalau akhirnya sia-sia. Bahkan apabila kita bisa memiliki dunia ini dengan segala kesenangannya, dan mungkin kita masih ingin hidup seribu tahun lagi, tetapi pada akhirnya binasa, apakah kita harus menjadi orang yang sebodoh itu ?.

Masa hidup kita hanya 70 tahun itu yang Firman sudah katakan ( Mazmur 90:10), bahkan kalau kita masih bisa hidup lebih dari 70 tahun, kesuakaannya adalah kesukaran dan penderitaan, lalu semuanya berlalu dan hilang lenyap.

Masih maukah kita menyia-nyiakan hidup kita hari ini ? maukah kita meresponi kasih karunia yang telah Tuhan berikan dalam hidup kita, pakai waktu yang ada untuk kita memakai waktu -waktu ini untuk hidup bagi Tuhan.

23 Juni 2020

Belajar Dari Seorang Petani

"Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya." 2 Timotius 2:6

Rasul Paulus juga menasihati kita untuk belajar dari kehidupan seorang petani, seorang yang bekerja di bidang pertanian (sawah, ladang) yang melakukan pengelolaan tanah dan menabur benih tanaman dengan harapan benih itu tumbuh dan menghasilkan buah untuk dikonsumsi sendiri ataupun dijual kepada orang lain.

Salah satu karakter petani yang patut dicontoh adalah kerja keras! Ia bekerja tanpa mengenal lelah mulai dari pagi sampai petang, tidak peduli dengan panas terik maupun hujan. Petani yang bekerja di sawah atau ladang tak langsung menuai, ia harus menunggu dengan sabar dalam kurun waktu yang cukup lama sampai benih yang ditaburnya itu tumbuh dan menghasilkan buah.

"Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu," (Yakobus 5:7-8). Rasul Paulus mengibaratkan bahwa melayani pekerjaan Tuhan itu juga seperti petani yang sedang bekerja di ladang: ada yang mencangkul atau membajak sawah, ada yang menanam benih, dan ada pula yang menyiram (1 Korintus 3:6-9).

Dalam mengiring Tuhan pun kita harus mau bekerja keras, mau berkorban waktu dan tenaga: "Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai." (Pengkhotbah 11:4), "Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik." (Pengkhotbah 11:6).

Ada tertulis: "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan," (Amsal 14:23). Segala jerih payah petani pada akhirnya akan terbayar lunas ketika musim panen tiba. Sekalipun kita diperhadapkan dengan tantangan, terjangan angin dan badai, "…berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58).

"Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai." Mazmur 126:5

Hidup Menjadi Berkat

2_Korintus 11:7-33 
“Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian.” (ayat 9)

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mau kekurangan, semua orang ingin hidup berkecukupan dan bahkan berkelebihan. Tetapi adakah sekarang ini orang yang rela mengalami kekurangan agar hidupnya tidak menjadi beban bagi orang lain? Dunia jaman sekarang sudah diisi oleh orang-orang yang egois yang tidak peduli lagi akan nasib orang lain, yang penting adalah menimbun lebih banyak lagi bagi diri sendiri. Sebagai orang percaya kita terpanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain. Bagaimana caranya?

  • Jangan menjadi beban bagi orang lain

Hidup yang menjadi berkat adalah hidup yang menolong meringankan beban orang lain dan bukan sebaliknya (ayat 9). Jangan pernah meraih impian Anda dengan mengorbankan orang lain. Tetapi tolong juga orang lain agar mereka juga tidak dibebani oleh pencapaian Anda. Banyak orang kaya di jaman sekarang ini menimbun kekayaannya di atas penderitaan orang lain. Memang kolonianisme sudah dihapuskan tetapi penjajahan secara struktural masih merajalela. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Kalau saja setiap kita terpanggil untuk menjadi berkat, maka kita tidak akan tenang kalau kekayaan kita itu dihasilkan dari memeras orang lain. Tetapi kita akan menjadikan hidup ini menjadi alat di tangan Tuhan untuk menolong orang lain mampu menanggung beban hidupnya.

  • Mau berkorban untuk orang lain

Paulus rela kehilangan kebebasannya hanya karena ingin agar orang lain mendapatkan kebebasan (ayat 22-29). Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi juga orang-orang yang membutuhkan pertolongannya, sekalipun oleh karena itu dia harus mengalami berbagai penderitaan. Dia menyadari bahwa hidup yang bermakna bukan saja hidup dalam kenyamanan tetapi juga dalam kegetiran hidup agar orang lain mendapatkan kenyamanan. Sebab apa gunanya kita nyaman sementara orang di sekitar kita sedang mengalami berbagai masalah dan persoalan hidup? Hidup yang menjadi berkat adalah hidup dipergunakan agar orang lain mendapatkan manfaat di dalamnya. Dan berkorban adalah salah satu cara untuk itu.

Hidup yang menjadi berkat adalah hidup yang dipergunakan agar orang lain mendapatkan manfaat di dalamnya.

21 Juni 2020

Cara Meresponi Keberhasilan Dan Kegagalan

Filipi 4:10-21:0

Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.

Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.

Keberhasilan adalah kemampuan untuk menanggung segala kondisi hidup, apapun itu bentuknya keberhasilan membutuhkan usaha yang kadang melalui proses yang rumit, kompleks dan memerlukan konsistensi dari orang yang mengupayakannya. Orang bisa merasa kuat karena dia pernah mengalami kelemahan demikian juga dengan keberhasilan. Keberhasilan diraih bukan tanpa pernah mengalami kegagalan. Ada pepatah mengatakan kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Bagaimanakah agar keberhasilan dapat kita raih?

Tidak ada satupun di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Kalau Anda sedang berhasil, hal itu bukan kebetulan tetapi juga kalau Anda sedang gagal, itupun ada dalam proses dan ijin Tuhan. Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana bisa merespon kedua hal ini pada porsinya masing-masing? Firman Tuhan mengatakan, "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan,  baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan." (ayat 12). Ketidaktepatan dalam memaknai keberhasilan akan menjerumuskan orang, demikian juga dengan kegagalan akan menghancurkan orang yang mengalaminya. Orang yang berhasil tetapi tidak bisa memaknai keberhasilannya bisa menjadikan orang tersebut sombong karena merasa bahwa dirinya mampu. Demikian juga dengan orang yang sedang mengalami kegagalan, kalau tidak bisa mengatasi kegagalan secara benar cenderung untuk mengasihi diri sendiri dan tidak mengerti bahwa dalam setiap kegagalan adalah suatu proses yangs semua orang akan lalui dan ada suatu pesan bahwa kita akan dibawa kepada suatu hal yang lebih baik.

Ketidaktepatan dalam merespon keberhasilan dan kegagalan melahirkan pengaruh negatif dalam kehidupan seseorang yang berarti juga “kegagalan hidup”. Tetapi kalau Anda bisa meresponnya secara tepat dan benar, kedua hal itu akan membentuk Anda menjadi pribadi yang berkualitas, sukses, dan berhasil. Orang yang berhasil selalu mengalami suatu kesempatan di mana dia pernah juga gagal. Tetapi dia masuk kategori berhasil, karena bisa memaknai kegagalan itu sebagai “suatu kendaraan untuk berhasil”.

Apapaun yang anda miliki dan situasi apapun yang anda hadapi dalam hidup anda, Milikilah Rrespon yang benar dalam menghadapi Keberhasilan dan kegagalan, karena itu akan membentuk dan memperkaya hidup anda menjadi seorang yang berhasil.

20 Juni 2020

Jadilah Hamba Yang Setia

1_Korintus 4:1-5

“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” (ayat 2)


Sering orang tidak belajar dari masa lalunya sehingga ketika sukses orang tersebut menjadi lupa akan akan masa lalunya. Demikian juga banyak orang yang melayani Tuhan lupa siapa dirinya yang sesungguhnya sehingga ketika berhasil merasa bahwa itu adalah karena dirinya sendiri. Itulah sebabnya banyak orang memulai dengan baik tetapi mengakhirinya dengan tidak baik. Allah menginginkan agar kita setia sebagai hamba-hamba-Nya. Apakah ciri seorang hamba yang setia itu?

1. Dapat dipercayai

Memang Allah tidak mencari orang yang pintar tetapi orang yang bersedia untuk melakukan perintah-Nya. Tetapi bukan saja orang yang bersedia namun juga yang dapat dipercayai. Tidak sedikit orang akhirnya undur dari Tuhan karena menyalahgunakan kepercayaan Allah dalam hidupnya. Awalnya mungkin tidak tetapi karena kesuksesan yang mendongkrak popularitas sering membuat seorang hamba lupa siapa dirinya. Ingatlah, kesuksesan Anda bukan karena diri Anda tetapi karena Tuhan memakai Anda. Jadi, tempatkan diri Anda sebagai hamba yang dapat dipercayai.

2. Sadar bahwa Allah yang menilai hidup

Tidak ada satupun yang tersembunyi di hadapan Allah. “…Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati…” (ayat 5). Kalau kita sadar bahwa Allah yang menilai pekerjaan atau pelayanan kita, maka sepatutnya kita melakukannya bukan untuk diri sendiri tetapi bagi kemuliaan Allah karena untuk itulah Dia mempercayakan segala sesuatu dalam hidup kita - Roma 11:36.

Jangan tergiur dengan penilaian atau pujian dari manusia yang bisa menyimpangkan langkah kita sehingga mulai jatuh ke dalam kesombongan. Dan sebaliknya jangan pernah putus asa kalaupun penilaian manusia negatif karena Tuhanlah yang memberikan penilaian. Asal segala sesuatu kita lakukan dengan satu tujuan agar Tuhan Dimuliakan maka pasti Tuhan akan yang akan mengangkat dan mempromosikan kita.


Memang Allah tidak mencari orang yang pintar tetapi orang yang bersedia untuk melakukan perintah-Nya dengan tujuan memuliakan namaNya.