24 Juni 2020

Siapakah Anda Dimata Tuhan

Sebagai orang percaya, kita harus menemukan jawaban yang benar untuk menjawab pertanyaan di atas yaitu; “Siapakah Anda dimata Tuhan . . ?”. Sebab bila kita tidak mengerti siapakah diri kita yang sesungguhnya, maka hidup yang kita jalani saat ini akan menjadi sia-sia.

Firman Tuhan dalam 1 Korintus 6: 19 – 20, memberi jawaban atas pertanyaan ini, yang membuat kita menyadari saat ini bahwa ternyata hidup kita sudah bukan milik kita lagi, tetapi hidup kita adalah milik Kristus, karena kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.

Jadi apabila saat ini kalau kita masih merasa memiliki diri kita sendiri, maka kita telah berbuat kesalahan yang fatal, apalagi kalau kita mengaku sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, namun tidak menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang telah membeli dan membayar dengan lunas seluruh hidup kita, supaya kita menjadi milik-Nya.

Dengan menyadari siapakah diri kita ini maka;

  1. Hidup harus seturut dengan kehendak Tuhan dan tidak lagi hidup dalam keinginan diri sendiri.
  2. Menjaga hidup ini supaya tetap tinggal dalam kekudusan, dan menanggalkan semua Dosa
  3. Kita harusmenjadi seorang hamba yang taat dan setia.
  4. Tidak lagi hidup untuk kepentingan diri sendiri, tetapi hidup untuk Tuhan, yaitu menjadi berkat bagi banyak orang.

Sekarang yang menjadi pertanyaan penting yang harus kita sadari adalah; “Apakah untungnya bagi Tuhan sehingga Ia mau membeli dan membayar hidup kita dengan memberikan nyawa-Nya supaya kita bisa menjadi milik-Nya ?”.

Sesungguhnya tidak ada keuntungan sesuatu apapun bagi Tuhan saat Ia mau membeli hidup kita dengan sebuah harga yang sangat mahal, yaitu dengan darah-Nya yang kudus yang tak bercacat dan tak bernoda, bahkan Ia rela memberikan nyawa-Nya, hanya dengan satu tujuan yaitu supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.

Ini adalah sebuah kasih karunia yang tak ternilai harganya, sebab ternyata Tuhan mau membeli hidup kita bukan untuk kepentingan dirinya, tetapi karena belas kasihan Tuhan atas kita. Tuhan tidak ingin melihat manusia yang adalah ciptaan-Nya pada akhirnya harus binasa dalam api neraka yang kekal.

Lalu kalau Tuhan saja berpikir untuk kepentingan hidup kita dalam kekekalan, bagaimana mungkin kita saat ini masih hidup dalam dosa dan kecemaran, dan tidak merasa takut dan gentar dihadapan Tuhan ?.

Padahal dengan menyadari siapakah kita ini, maka seharusnya kita hidup hanya untuk memuliakan Tuhan dalam seluruh hidup kita. Bahkan dengan tubuh yang kita diami saat ini semuanya harus hanya untuk hormat dan kemuliaan Tuhan.

Satu hal yang tidak dapat kita pungkiri bahwa sampai detik ini seringkali kita masih hidup mengikuti keinginan hati kita sendiri. Seringkali kita masih ingin memiliki hidup kita sendiri dan belum mau sepenuhnya memberikan hidup ini kepada Tuhan. Padahal yang sesungguhnya hidup kita bukanlah milik kita lagi tetapi telah menjadi milik Kristus Yesus Tuhan.

Kalau kita masih ingin memiliki diri kita sendiri, sebenarnya kita telah mencuri apa yang bukan menjadi hak milik kita. Dengan mencuri kehidupan yang seharusnya menjadi milik Tuhan, dan tetap hidup menurut keingnan hawa nafsu dunia, maka sebenarnya tanpa sadar kita sedang mengarahkan diri kita berjalan menuju kegelapan dimana pada akhirnya akan terbuang dari hadapan Tuhan kedalam api neraka.

Sebenarnya kita bukan saja tidak lagi memiliki diri ini, tetapi selama kita hidup di dunia ini-pun, tidak ada seorang manusiapun yang tahu, kapan waktu Tuhan akan tiba atas hidupnya. Ini artinya kematian dapat menjemput setiap orang kapan saja dan dimana saja. Lalu bagaimana bila waktu Tuhan tiba detik ini juga atas diri kita, sementara kita masih tinggal didalam dosa, dan tidak sempat untuk bertobat ?

Satu hal yang harus terus kita ingat bahwa, upah dosa adalah maut. Jadi selama kita masih bernafas saat ini, jangan pernah menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan yang telah diberikan kepada kita. Belas kasihan Tuhan yang telah dinyatakan kepada kita haruslah kita terima dengan ucapan syukur yang tiada henti-hentinya.

Dunia hanya menawarkan apa yang menjadi kesenangan sesaat, tetapi pada akhirnya semua akan sia-sia. Untuk apa semua kesenangan dunia ini kalau akhirnya sia-sia. Bahkan apabila kita bisa memiliki dunia ini dengan segala kesenangannya, dan mungkin kita masih ingin hidup seribu tahun lagi, tetapi pada akhirnya binasa, apakah kita harus menjadi orang yang sebodoh itu ?.

Masa hidup kita hanya 70 tahun itu yang Firman sudah katakan ( Mazmur 90:10), bahkan kalau kita masih bisa hidup lebih dari 70 tahun, kesuakaannya adalah kesukaran dan penderitaan, lalu semuanya berlalu dan hilang lenyap.

Masih maukah kita menyia-nyiakan hidup kita hari ini ? maukah kita meresponi kasih karunia yang telah Tuhan berikan dalam hidup kita, pakai waktu yang ada untuk kita memakai waktu -waktu ini untuk hidup bagi Tuhan.

23 Juni 2020

Belajar Dari Seorang Petani

"Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya." 2 Timotius 2:6

Rasul Paulus juga menasihati kita untuk belajar dari kehidupan seorang petani, seorang yang bekerja di bidang pertanian (sawah, ladang) yang melakukan pengelolaan tanah dan menabur benih tanaman dengan harapan benih itu tumbuh dan menghasilkan buah untuk dikonsumsi sendiri ataupun dijual kepada orang lain.

Salah satu karakter petani yang patut dicontoh adalah kerja keras! Ia bekerja tanpa mengenal lelah mulai dari pagi sampai petang, tidak peduli dengan panas terik maupun hujan. Petani yang bekerja di sawah atau ladang tak langsung menuai, ia harus menunggu dengan sabar dalam kurun waktu yang cukup lama sampai benih yang ditaburnya itu tumbuh dan menghasilkan buah.

"Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu," (Yakobus 5:7-8). Rasul Paulus mengibaratkan bahwa melayani pekerjaan Tuhan itu juga seperti petani yang sedang bekerja di ladang: ada yang mencangkul atau membajak sawah, ada yang menanam benih, dan ada pula yang menyiram (1 Korintus 3:6-9).

Dalam mengiring Tuhan pun kita harus mau bekerja keras, mau berkorban waktu dan tenaga: "Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai." (Pengkhotbah 11:4), "Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik." (Pengkhotbah 11:6).

Ada tertulis: "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan," (Amsal 14:23). Segala jerih payah petani pada akhirnya akan terbayar lunas ketika musim panen tiba. Sekalipun kita diperhadapkan dengan tantangan, terjangan angin dan badai, "…berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58).

"Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai." Mazmur 126:5

Hidup Menjadi Berkat

2_Korintus 11:7-33 
“Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian.” (ayat 9)

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang mau kekurangan, semua orang ingin hidup berkecukupan dan bahkan berkelebihan. Tetapi adakah sekarang ini orang yang rela mengalami kekurangan agar hidupnya tidak menjadi beban bagi orang lain? Dunia jaman sekarang sudah diisi oleh orang-orang yang egois yang tidak peduli lagi akan nasib orang lain, yang penting adalah menimbun lebih banyak lagi bagi diri sendiri. Sebagai orang percaya kita terpanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain. Bagaimana caranya?

  • Jangan menjadi beban bagi orang lain

Hidup yang menjadi berkat adalah hidup yang menolong meringankan beban orang lain dan bukan sebaliknya (ayat 9). Jangan pernah meraih impian Anda dengan mengorbankan orang lain. Tetapi tolong juga orang lain agar mereka juga tidak dibebani oleh pencapaian Anda. Banyak orang kaya di jaman sekarang ini menimbun kekayaannya di atas penderitaan orang lain. Memang kolonianisme sudah dihapuskan tetapi penjajahan secara struktural masih merajalela. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Kalau saja setiap kita terpanggil untuk menjadi berkat, maka kita tidak akan tenang kalau kekayaan kita itu dihasilkan dari memeras orang lain. Tetapi kita akan menjadikan hidup ini menjadi alat di tangan Tuhan untuk menolong orang lain mampu menanggung beban hidupnya.

  • Mau berkorban untuk orang lain

Paulus rela kehilangan kebebasannya hanya karena ingin agar orang lain mendapatkan kebebasan (ayat 22-29). Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi juga orang-orang yang membutuhkan pertolongannya, sekalipun oleh karena itu dia harus mengalami berbagai penderitaan. Dia menyadari bahwa hidup yang bermakna bukan saja hidup dalam kenyamanan tetapi juga dalam kegetiran hidup agar orang lain mendapatkan kenyamanan. Sebab apa gunanya kita nyaman sementara orang di sekitar kita sedang mengalami berbagai masalah dan persoalan hidup? Hidup yang menjadi berkat adalah hidup dipergunakan agar orang lain mendapatkan manfaat di dalamnya. Dan berkorban adalah salah satu cara untuk itu.

Hidup yang menjadi berkat adalah hidup yang dipergunakan agar orang lain mendapatkan manfaat di dalamnya.

21 Juni 2020

Cara Meresponi Keberhasilan Dan Kegagalan

Filipi 4:10-21:0

Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.

Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.

Keberhasilan adalah kemampuan untuk menanggung segala kondisi hidup, apapun itu bentuknya keberhasilan membutuhkan usaha yang kadang melalui proses yang rumit, kompleks dan memerlukan konsistensi dari orang yang mengupayakannya. Orang bisa merasa kuat karena dia pernah mengalami kelemahan demikian juga dengan keberhasilan. Keberhasilan diraih bukan tanpa pernah mengalami kegagalan. Ada pepatah mengatakan kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Bagaimanakah agar keberhasilan dapat kita raih?

Tidak ada satupun di dunia ini yang terjadi secara kebetulan. Kalau Anda sedang berhasil, hal itu bukan kebetulan tetapi juga kalau Anda sedang gagal, itupun ada dalam proses dan ijin Tuhan. Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana bisa merespon kedua hal ini pada porsinya masing-masing? Firman Tuhan mengatakan, "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan,  baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan." (ayat 12). Ketidaktepatan dalam memaknai keberhasilan akan menjerumuskan orang, demikian juga dengan kegagalan akan menghancurkan orang yang mengalaminya. Orang yang berhasil tetapi tidak bisa memaknai keberhasilannya bisa menjadikan orang tersebut sombong karena merasa bahwa dirinya mampu. Demikian juga dengan orang yang sedang mengalami kegagalan, kalau tidak bisa mengatasi kegagalan secara benar cenderung untuk mengasihi diri sendiri dan tidak mengerti bahwa dalam setiap kegagalan adalah suatu proses yangs semua orang akan lalui dan ada suatu pesan bahwa kita akan dibawa kepada suatu hal yang lebih baik.

Ketidaktepatan dalam merespon keberhasilan dan kegagalan melahirkan pengaruh negatif dalam kehidupan seseorang yang berarti juga “kegagalan hidup”. Tetapi kalau Anda bisa meresponnya secara tepat dan benar, kedua hal itu akan membentuk Anda menjadi pribadi yang berkualitas, sukses, dan berhasil. Orang yang berhasil selalu mengalami suatu kesempatan di mana dia pernah juga gagal. Tetapi dia masuk kategori berhasil, karena bisa memaknai kegagalan itu sebagai “suatu kendaraan untuk berhasil”.

Apapaun yang anda miliki dan situasi apapun yang anda hadapi dalam hidup anda, Milikilah Rrespon yang benar dalam menghadapi Keberhasilan dan kegagalan, karena itu akan membentuk dan memperkaya hidup anda menjadi seorang yang berhasil.

20 Juni 2020

Jadilah Hamba Yang Setia

1_Korintus 4:1-5

“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” (ayat 2)


Sering orang tidak belajar dari masa lalunya sehingga ketika sukses orang tersebut menjadi lupa akan akan masa lalunya. Demikian juga banyak orang yang melayani Tuhan lupa siapa dirinya yang sesungguhnya sehingga ketika berhasil merasa bahwa itu adalah karena dirinya sendiri. Itulah sebabnya banyak orang memulai dengan baik tetapi mengakhirinya dengan tidak baik. Allah menginginkan agar kita setia sebagai hamba-hamba-Nya. Apakah ciri seorang hamba yang setia itu?

1. Dapat dipercayai

Memang Allah tidak mencari orang yang pintar tetapi orang yang bersedia untuk melakukan perintah-Nya. Tetapi bukan saja orang yang bersedia namun juga yang dapat dipercayai. Tidak sedikit orang akhirnya undur dari Tuhan karena menyalahgunakan kepercayaan Allah dalam hidupnya. Awalnya mungkin tidak tetapi karena kesuksesan yang mendongkrak popularitas sering membuat seorang hamba lupa siapa dirinya. Ingatlah, kesuksesan Anda bukan karena diri Anda tetapi karena Tuhan memakai Anda. Jadi, tempatkan diri Anda sebagai hamba yang dapat dipercayai.

2. Sadar bahwa Allah yang menilai hidup

Tidak ada satupun yang tersembunyi di hadapan Allah. “…Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati…” (ayat 5). Kalau kita sadar bahwa Allah yang menilai pekerjaan atau pelayanan kita, maka sepatutnya kita melakukannya bukan untuk diri sendiri tetapi bagi kemuliaan Allah karena untuk itulah Dia mempercayakan segala sesuatu dalam hidup kita - Roma 11:36.

Jangan tergiur dengan penilaian atau pujian dari manusia yang bisa menyimpangkan langkah kita sehingga mulai jatuh ke dalam kesombongan. Dan sebaliknya jangan pernah putus asa kalaupun penilaian manusia negatif karena Tuhanlah yang memberikan penilaian. Asal segala sesuatu kita lakukan dengan satu tujuan agar Tuhan Dimuliakan maka pasti Tuhan akan yang akan mengangkat dan mempromosikan kita.


Memang Allah tidak mencari orang yang pintar tetapi orang yang bersedia untuk melakukan perintah-Nya dengan tujuan memuliakan namaNya.

19 Juni 2020

Menghormati Pemimpin Rohani

1_Tesalonika 5:12-13 
Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu;. 1 Tes 5:12

Rasul Paulus, dalam penutup suratnya kepada jemaat di Tesalonika, mengingatkan jemaat bagaimana mereka seharusnya bersikap kepada para pemimpin rohani mereka, ada dua hal yang dinyatakan. Namun demikian, marilah kita melihat terlebih dahulu apa fungsi dari otoritas rohani bagi jemaatnya.

Fungsi utama dari otoritas rohani dalam kehidupan orang lain atau jemaat adalah memimpin jemaat atau anak-anak rohaninya untuk semakin mengenal Tuhan dan hidup dalam pimpinan Tuhan. Hal ini harus dilakukan dengan kesungguhan hati, dimana Alkitab mencatatnya dengan kata bekerja keras. Artinya, ini bukan usaha yang setengah-setengah, melainkan seorang pemimpin rohani harus menggunakan segala daya upaya agar jemaatnya sungguh-sungguh bertumbuh dan berbuah dalam rencana Tuhan. Oleh karena itulah frase menegor jemaat menjadi sangat wajar terutama pada saat jemaat melakukan hal yang menjauhkan diri mereka sendiri dari pimpinan Tuhan. Karena itu adalah bagian dari pekerjaan seorang pemimpin rohani.

Dengan latar belakang pemahaman di atas, maka bagaimanakah sikap jemaat yang seharusnya pada otoritas rohani mereka sebagaimana yang Rasul Paulus ingatkan pada kita semua hari ini:

  • Menghormati otoritas rohani (ayat 12)
  • Menjunjung otoritas dalam kasih (ayat 13)

Seorang pemimpin rohani yang baik, pastinya tidak akan gila hormat atau menuntut penghormatan dari jemaatnya. Namun, sebagai seorang jemaat kita patut untuk menghargai dan menghormati pemimpin rohani kita. Pertama, karena Tuhan memakai otoritas tersebut untuk memimpin kita untuk kita dapat hidup dalam rencana Tuhan. Kedua, kita juga perlu menghargai jerih lelah yang mereka lakukan untuk kita, baik dalam melayani, mengajar, mendoakan atau pun mengunjungi kita. Ketiga mereka melakukannya bukan karena semata -mata itu Tugas pemimpin tapi mereka melakukannya karena Kasih Mereka kepada Kristus dan Kasih mereka kepada Jemaat.

Kalau kita menyadari bahwa Tuhan menetapkan seorang pemimpin rohani dalam kehidupan kita, berarti kita mengakui kedaulatan Tuhan atas hidup kita. Untuk itu kita perlu menghormati posisi dan status otoritas yang mereka miliki sebab mereka sedang melakukan pekerjaan Tuhan. Namun, itu tidak boleh merenggangkan hubungan di antara keduanya, sebaliknya Rasul Paulus mengingatkan kepada kita untuk melakukannya dalam kasih. Sehingga terbangun suatu hubungan yang saling mengasihi antara otoritas rohani dan jemaat yang dipimpinnya. Namun kita harus tau terlebih dahulu bahwa apabila mereka menasehati kita dan menegur kita itu karena mereka mangasihi domba-domba (jemaat) yang Tuhan percakan kepada mereka

Menegor atau menasehati jemaat menjadi sangat wajar terutama pada saat jemaat melakukan hal yang menjauhkan diri mereka sendiri dari pimpinan Tuhan

18 Juni 2020

2 Kunci Keberhasilan dalam Hidup

This image has an empty alt attribute; its file name is 2-kunci-keberhasilan-dalam-hidup-1.jpg

2 Samuel 5:17-25
" bertanyalah Daud kepada TUHAN: "Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu? Akan Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?" TUHAN menjawab Daud: "Majulah, sebab Aku pasti akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu." (ayat 19)


Sukses adalah kerja keras tetapi kerja keras tidak selamanya akan berujung pada kesuksesan. Karena ada banyak orang yang sudah bekerja keras tetapi tidak berhasil dan kalau hari ini Anda sukses itu adalah karena anugerah Allah. Hal itulah yang kita lihat dalam perikop kita hari ini di mana Daud mengalami kemenangan yang besar dalam peperangannya dengan orang Filistin. Apa yang telah dilakukan Daud yang dapat kita teladani dalam mengarungi peperangan hidup kita?

Mengandalkan Allah

Salah satu kunci keberhasilan Daud adalah keyakinannya yang teguh bahwa pertolongan dan bimbingan Allah merupakan hal yang sangat mutlak diperlukan. Itulah sebabnya ia membiasakan diri untuk bertanya kepada Tuhan (ayat 19)

Kalau Anda ingin memenuhi maksud Allah bagi kehidupan Anda, maka hal itu akan sangat bergantung pada bagaimana Anda mencari bimbingan Allah melalui doa dan pimpinan Roh Kudus yang tinggal di dalam diri Anda.

Mentaati Allah

“Dan Daud berbuat demikian, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, maka ia memukul kalah orang Filistin, mulai dari Geba sampai dekat Gezer.” (ayat 25)

Daud menyadari bahwa pengalaman perang bukanlah segala-galanya sekalipun strategi yang pernah diterapkan memberikan kemenangan yang gilang gemilang, tetapi ketaatan kepada perintah Allah adalah kunci keberhasilannya. Itulah sebabnya dia lebih mengikuti cara Tuhan dari pada apa yang bisa dia lakukan di dalam pikirannya sendiri.

17 Juni 2020

Disaat Aku Lemah, Kuasanya Berkerja

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:9)

Tawar hati adalah musuh seorang anak Tuhan. Karena tawar hati akan meniadakan kasih, sukacita, dan damai sejahtera yang terpancar sehari-hari. Hidup menjadi datar dan akan mengalir begitu saja tanpa semangat dan harapan. Ketawaran hati dapat dimulai dari kejenuhan hati karena gagal mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Pada akhirnya seseorang akan merasa diabaikan dan tidak menjadi penting.

Namun Paulus mengetahui perangkap iblis tersebut. Meski sudah tiga kali memohon kuasa Allah untuk menyembuhkan penyakitnya, dengan jelas Allah menolaknya. Penyakit kusta, lumpuh, gila yang diderita orang-orang berhasil disembuhkan oleh Paulus. Betapa istimewanya Paulus sebagai pekerja-Nya. Namun kini, Paulus menemukan dirinya tertawan oleh duri yang menusuk dagingnya. Tuhan membiarkan duri itu tertancap didalam tubuhnya. Paulus tidak berontak, tidak patah hati, tidak juga bertanya apa maksud Tuhan terhadap hidupnya. Seperti apakah Paulus memahami maksud Tuhan dalam kehidupan pelayanannya?

  1. Paulus sadar bahwa kuasa Tuhan akan dahsyat bekerja didalam pelayanannya jika ia fokus kepada kuasa Allah yang akan melakukan sepenuhnya. Kuasa-Nya yang sempurna telah menjadi kekuatan bagi Paulus. Bukan karena kecerdasan, bukan juga karena wibawanya, atau perhitungan logikanya, tetapi semakin kecil kemampuan Paulus membuat kuasa-Nya bekerja sempurna.
  2. Sikap merendahkan diri dengan berbagai kekurangan yang dimiliki, Paulus merebut kuasa Kristus untuk melindungi segenap pelayanannya. Paulus tidak meng-klaim keberhasilan sebelumnya akan menjamin pelayanannya selanjutnya, tetapi pengakuan sebagai pelayan yang tidak punya kemampuan menjadi jaminan keberhasilan itu sendiri.
  3. Paulus sadar akan kasih karunia-Nya yang terus bekerja didalam hidupnya. Dia mengetahui pasti bahwa kasih karunia Allah itulah yang menutupi ketidak-sempurnaan pelayanan yang dilakukannya. Paulus sangat mengandalkanNya.

Adakah kita selaku orang percaya bisa berbangga dengan kekurangan dan ketidak sempurnaan hidup kita? Masihkah kita tetap mau memberi diri melayani Tuhan setelah sadar bahwa kita tidak sempurna? Kekurangan dan kelemahan mana yang akan menghalangi kita melayani Tuhan ketika kita mengharapkan kasih karunia-Nya bekerja dalam hidup kita? Kuasa Tuhan selalu Hadir dan nyata bagi orang yang tidak berjalan dengan kekuatannya, karena mereka yakin bukan dengan kuat atau gagah melainkan bersama Tuhan segala sesuatu mampu kita lakukan.

Tetaplah Melayani Sekalipun kita memiliki Kekurangan.

Kerinduan Kepada Allah


Sebagaimana air penting sekali untuk kehidupan kita, demikianlah kehadiran-Nya penting untuk hidup inikita. Orang yang membutuhkan Tuhan dalam hidupnya adalah orang yang lapar dan haus akan Allah di dalam hidup mereka. Mengapa?

karena disaat kita Berhenti merasa dahaga akan Allah berarti kita mati secara rohani.

Mazmur 42:3 mengatakan “Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” Daud memiliki jiwa yang dahaga kepada Allah. Dia tidak membiarkan kesenangan dan kesusahan membuat dia tidak memerlukan Tuhan dalam hidupnya.

Jangan pernah membiarkan kesulitan, kekwatiran hidup, permasalah, tekanan mengurangi kerinduan kita akan hal-hal dari Allah. Tetaplah mencari wajah-Nya. Sebab jika Anda sudah kehilangan rasa lapar dan haus kepada Allah, maka sama saja kita meningalkan Tuhan.

“Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.” (ayat 5) Daud tetap memiliki komitmen untuk selalu bersekutu dengan Allah sekalipun ada banyak masalah yang menghadangnya.

Mungkin akan banyak halangan dan rintangan dan masalah yang akan kita hadapi dalam perjalanan hidup kita, tetapi komitmen yang besar akan meruntuhkan semua halangan itu dan menghacurkan semua permasalah dan kekuatiran kita, Disaat kita datang kepada Tuhan dalam Hadiratnya maka kita akan keluar dengan sorak - sorai karena disaat kita bertemu dengan Tuhan dalam Hadiratnya, Kemenangan dan kekuatan diberikan kepada mereka sehingga mereka akan berjalan semakin hari semakin kuat, mereka akan mendapatkan kemenangan pada waktunya.

15 Juni 2020

Saat Aku Takut, Aku percaya kepadaMu

Pernahkah kita merasa takut? Pasti pernah. Dengan begitu kita masih normal sebagai manusia, karena itu naluri yang kita miliki sebagai makhluk hidup.

Takut sesungguhnya menjadi cara kita untuk bertahan hidup, beradaptasi dengan linkungan yang tidak kita harapkan, bahkan untuk menjadi berhasil kita membutuhkan rasa Takut, karena tanpa rasa takut kita akan berakhir konyol karena kita tidak tau mana bahaya dan mana yang harus kita hindari.

Takut adalah tanda bagaimana kita harus lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu, dan kemudian berupaya untuk meniadakan atau meminimalisir resiko yang kita hadapi. Takut, adalah teman kita untuk menolong kita.

Namun, takut menjadi tidak sehat ketika perasaan itu menjadi penghalang bagi kita untuk melakukan satu atau banyak hal. Kita begitu sering mengalami rasa takut atau perasaan cemas yang terlalu besar, sehingga melemahkan atau melumpuhkan kita.

Takut kehilangan. Takut membuka diri. Takut berbicara. Takut malu. Takut gagal. Takut berbeda. Takut berubah. Takut dengan perbedaan. dan seterusnya. sehingga tanpa kita sadari ketakutan menjadi kita terbatas, terhalang, tidak bertumbuh, kerdil. Kita kehilangan kemampuan untuk hidup dan bertumbuh secara sehat.

Bayangkan jika kita tidak dicengkeram rasa takut. Kita akan bersemangat untuk mempelajari berbagai hal. Kita akan berani mencoba dan melakukan banyak kegiatan. Kita akan percaya diri. Kita akan jauh dari prasangka dan kecemasan. Kita akan hidup tanpa beban. Kita akan selalu bersukacita. Kita akan optimis menghadapi segala sesuatu. Kita tidak takut menghadapi tantangan.

Kita akan bebas mengasihi dan mengampuni. Kita akan menjadi berkat. Kita akan sehat jasmani, rohani, dan psikologis. Bahagia dan menikmati hidup dari hari ke hari. Kita akan lebih mudah untuk bersyukur, menyenankan Tuhan dan menikmati hadiratnya sekaligus memuliakan Dia Kita akan bersukacita karena kemenangan yang kita peroleh.

Bukankah itu suatu kehidupan yang patut diperjuangkan?

Sekarang bagian sulitnya, bagaimana kita dapat keluar dari cengkeraman rasa takut? Bagaimana kita dapat hidup dengan bebas untuk belajar, bertumbuh, mengasihi, melayani, penuh rasa syukur dan puas, bersukacita, berdamai dengan diri dan sesama, menjadi berkat, dan memuliakan Tuhan

  1. Menjaga Iman kita dengan Memercayai janji-janji Allah sekalipun belum melihat janji-janji itu digenapi.
  2. Tetaplaj berdoa dan berani untuk melangkah
  3. Jangan Takut gagal, tetaplah produktif karena berani mencoba sekalipun gagal merupakan awal untuk kita mengalahkan perasaan takut dan cemas dan langkah awal untuk menuju keberhasilan.
  4. Tetap Fokus kepada Tuhan dan Janjinya (firmanNya). jangan ambil jalan pintas tapi cintailah proses
  5. Jangan lupakan kebaikan Tuhan, yang selalu menolong kita saat melewati masa-masa bahaya dan kesulitan sebelumnya.
  6. Jangan takut Kata Tuhan, karena itu adalah perintah, bukan sebuah pilihan. Dan kenapa Tuhan yang memerintahkanNya ?, karena rasa takut membuat kita sulit untuk mengasihi Allah dan orang lain, kita akan hidup berasumsi, berasumsi atau berpikir negatif akan membelenggu kita untuk hidup sepenuhnya dalam anugerah Allah dan janji-Nya. ada 365 kali disebutkan dalam alkitab "Jangan takut!" salah satunya adalah dalam Mazmur 56:4 mengatakan "Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu." Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

Jangan Takut untuk melangkah untuk mencoba lagi, berani memulai sesuatu yang baru. Sebab Tuhan Selalu ada dipihak orang yang percaya dan mengandalkan Dia. jangan pakai pengertianmu sendiri karena Tuhan terlebih tau apa yang terbaik bagi hidup kita.

14 Juni 2020

Jangan Takut

Ketakutan tidak bisa dihindari, tapi Firman Tuhan memanggil kita untuk bersikap berani ? berbeda dengan kenyataan disaat kita harus menghadapi masalah yang seringkali membuat rasa takut itu justru lebih dominan untuk kita rasakan.

Ungkapan “jangan takut” muncul puluhan kali dalam Alkitab. Allah mengatakannya. “Jangan takut” maksudnya undangan Tuhan kepada kita untuk berani mendekat ke hadirat Tuhan atau menghadapi setiap masalah dengan keyakinan bahwa Tuhan beserta kita.

Sebelum Allah memberi tahu kita “jangan takut,” Dia mengingatkan kita tentang siapa Dia dan apa yang telah dan akan Dia lakukan.

Yesaya 41:10: “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Tuhan menyertai kita. Dia akan “meneguhkan,” “menolong,” dan “memegang” kita. Tuhan yang menyebut kita sebagai milik-Nya tidak akan meninggalkan kita. Bagian ini dilanjutkan dengan berkata, “Sesungguhnya, semua orang yang bangkit amarahnya terhadap engkau akan mendapat malu dan kena noda; orang-orang yang membantah engkau akan seperti tidak ada dan akan binasa; engkau akan mencari orang-orang yang berkelahi dengan engkau, tetapi tidak akan menemui mereka; orang-orang yang berperang melawan engkau akan seperti tidak ada dan hampa. Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.” (Yesaya 41: 11-13).

Dia adalah Tuhan kita, ancaman yang mengelilingi kita pada akhirnya tidak akan membahayakan kita. Yesus sendiri memberi tahu kita, “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa” (Matius 10:28).

Yesus mengatakan kepada mereka untuk tidak takut akan apa yang dilakukan musuh-musuh semacam itu terhadap mereka tetapi sebaliknya untuk “takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Mat. 10: 28-31).

13 Juni 2020

Bagaimana Mengasihi Tuhan


Hati kita Sering berubah-ubah, kita seringkali hanya mementingkan diri sendiri, pikiran kita mudah teralihkan, kekuatan kita cepat habis. Dunia menuntut waktu kita, perhatian, dan energi kita. Sebagai hasilnya, kita sering gagal untuk berfokus pada Dia.

Bagaimana kita dapat mengasihi Tuhan. kita akan mengasihi Tuhan apabila kita mengenal Dia. Seperti ada ungkapan yang mengatakan “ tak kenal maka tak sayang,”

Kenapa kita mau mengasihi Dia, inilah alasan kenapa kita mau mengenal Dia dan mengasihi Dia.

  1. Kita mengasihi Tuhan karena apa yang telah Dia lakukan. Dia tidak hanya Pencipta kita melainkan juga Juruselamat kita.
    • Yohanes 3 : 16 mengatakan Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
    • Untuk keselamatan kita, Dia rela berikan hidupnya bagi kita
    • Yohanes 15:13 berkata "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." 
  2. Tuhan memilih kita sebelum dunia dijadikan, sewaktu kita masih hidup dalam dosa, bukan ketika kita sudah cukup baik untukNya.
    • “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16
    • "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8
    • "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Efesus 1: 4-5

Mereka yang dipilih Tuhan bukannya cukup baik untuk standarNya, tetapi justru orang yang mau merespon dan menerima panggilan karena kasihNya dan AnugrahNya bagi kita. Tuhan Mengasihi Kita dengan memberikan seluruh hidupNya bagi kita, dan menerima kita bukan dari kelebihan dan apa yang sudah pernah kita lakukan untuk Dia, tapi Dia mengasihi kita Justru disaat ketika kita masih berdosa. Rindukah Anda mengenal KasihNya, karena Dia mengasihi Anda tidak sama dengan Dunia mengasihi Anda. GBU  

12 Juni 2020

Antara Kemauan dan Kemampuan, Mana Lebih Dulu ?


Jika Anda ditawari untuk memanjat tower setinggi 40 meter, padahal Anda takut ketinggian, namun Anda menyanggupinya, atau bila Anda ditawari naik ring untuk bertinju dengan Mike Tyson, padahal Anda bertubuh kecil, kurus kering dan tidak punya pengalaman, namun Anda menyanggupi juga, maka keputusan itu bisa berakibat konyol buat Anda. Anda bisa mati, atau masuk rumah sakit.

Gambaran di atas berlaku secara umum menurut hukum dunia, dalam pengertian tidak adanya campur tangan “asing”, misalnya campur tangan kuasa TUHAN. Ketika seseorang memiliki kemauan untuk sesuatu tujuan, ia harus berhitung terlebih dahulu, apakah kemampuannya mendukung atau tidak?

Namun untuk hukum kerajaan Allah, “bisa berlaku sebaliknya”.  Dalam hal-hal tertentu, umat Allah, khususnya orang Kristen,  tidak harus melihat dahulu kemampuannya secara wadag, untuk mentaati Firman Allah, jika memang Firman Allah diberikan kepada manusia untuk ditaati.

Nabi Musa, pada mulanya menolak untuk dipakai TUHAN membawa bangsa keturunan Yakub keluar dari tanah perbudakan, dia merasa tidak layak untuk tugas besar dan berat itu.

Keluaran 4:10-12

10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah."

11 Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?

12 Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."

Namun akhirnya Musa taat juga, dan ia melakukan tepat seperti semua skenario TUHAN, dan sebagai akibat dari ketaatan Musa itu, maka TUHAN benar2 menyertai Musa dengan kuasa-Nya.

Yang menarik adalah, sesudah Musa berkomitmen untuk mau dipakai TUHAN, maka nabi ini tidak menggunakan kemampuan manusiawinya sebagai pertimbangan untuk membuat sebuah keputusan. Musa sepertinya tidak mau pusing dengan soal makanan untuk bangsa itu, bagaimana jutaan orang itu bisa makan dalam waktu yang cukup lama di sepanjang perjalanan mereka nanti. Musa hanya percaya, TUHAN sendirilah yang akan mengurusi itu semua. Saya percaya, bahwa sebelumnya, Musa tidak pernah berfikir soal MANNA atau burung2 puyuh yang akan disediakan TUHAN buat bangsa Israel itu.

Jadi, dalam hal itu, kemauan mendahului kemampuan. Musa dan bangsa Israel MAU TERLEBIH DAHULU , untuk dibawa keluar dari Mesir, dan TUHAN yang MEMAMPUKAN mereka untuk melakukan perjalanan dahsyat itu.

Hal yang sama juga berlaku untuk orang2 kristen disegala zaman. Tuhan sudah menyediakan fasilitas surgawi. Kepada setiap orang yang MEMILIKI KEMAUAN untuk taat Firman Tuhan, maka Tuhan yang MEMAMPUKAN orang tersebut untuk mentaati Firman Tuhan. Contoh di bawah ini merupakan FAKTA bagaimana dalam hal tertentu, Tuhan tidak melihat kemampuanmu, namun Dia melihat kemauanmu, supaya Ia dapat menunjukkan kuasa-Nya untuk MEMAMPUKANMU melakukan ketaatan Firman Tuhan.

Di sebuah persekutuan doa, seorang ibu berkata, bahwa ia belum bisa mengampuni seseorang yang pernah menyakiti hatinya sedemikian parah, sehingga rasa-rasanya sampai matipun tidak mungkin ia bisa melupakan peristiwa tersebut, apalagi mengampuninya, karena terlalu menyakitkan. Namun seorang pembimbing rohaninya memberi penjelasan, yang kira-kira begini:

“ Ibu, yang penting Ibu mau mengampuni dia terlebih dahulu, maka nanti Roh Kudus yang akan memampukan ibu. Coba saja, dan percayalah” kata pembimbing rohani.

Seminggu kemudian mereka mengadakan persekutuan doa lagi, dan ibu tersebut melaporkan, kira-kira ia berkata begini:

“ Pak, puji Tuhan. Saya heran, semenjak pulang dari persekutuan doa minggu yang lalu, hatiku merasa damai, dan anehnya, aku sekarang begitu mudah mengampuni dia. Memang aku masih bisa mengingat dengan baik peristiwa yang menyakitkan itu, tetapi anehnya, aku sudah tidak sakit hati lagi. Aku sudah lega sekarang” kata ibu itu.

Yah, itulah kekristenan, umat yang istimewa, kepunyaan Tuhan sendiri, yang dipelihara oleh Tuhan sendiri, dan dimampukan Tuhan untuk mentaati Firman-Nya. Jika orang kristen menunggu untuk mampu terlebih dahulu (untuk taat Firman) maka sama saja denganmenganggap sepi keberadaan Roh Penolong.

Referensi:

Yohanes 14:15-17

15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

Matius 6:14-15

14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.

15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

Bagaimana suatu kebiasaan buruk terbentuk?

Kebiasaan Buruk Terbentuk :

  1. Hampir sama seperti kebiasaan baik, kebiasaan buruk kita terbentuk oleh pengalaman belajar, yakni melalui triol and error, melalui contoh dari orang lain yang kita kagumi, lewat pujian, dan dukungan orang lain, dan lewat latihan terus-menerus.
  2. Sering kali mulanya kebiasaan buruk berawal dari suatu tindakan yang iseng atau tidak sengaja. Jadi pada mulanya adalah tindakan triol and error. Ketika tindakan itu menyebabkan yang melakukannya memperoleh kenikmatan tertentu, tindakan itu akhirnya cenderung diulang. Pengulangan ini akan menciptakan keinginan demi keinginan untuk melakukannya lagi, sehingga terbentuklah kebiasaan.

Dampak kebiasaan buruk dalam hidup kita:

  1. Hidup menjadi tidak produktif, termasuk kehidupan rohani kita, banyak kesempatan untuk maju menjadi tersia-sia.
  2. Beberapa gangguan jiwa diakibatkan oleh kebiasaan yang mendarah daging disertai dengan konflik emosional yang berat.

Mengapa kita sulit menghilangkan kebiasaan buruk?

  1. Kebiasaan buruk sering kali telah tertanam sejak lama di dalam diri kita, sehingga untuk melatih kembali butuh waktu yang jauh lebih lama.
  2. Ada tarik-menarik yang terjadi antara kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik. Kebiasaan buruk sering berasosiasi dengan hal-hal yang menyenangkan dan menggairahkan, sehingga cenderung berulang, dan ini sesuai dengan kebiasaan kita sebagai orang berdosa.
  3. Ketika suatu kali kita tergoda kembali untuk melakukan suatu kebiasaan lama, kita sering menghibur diri dengan mengatakan bahwa ini adalah yang terakhir, tetapi sering kali yang terakhir ini justru menjadi awal dari kejatuhan kita yang berikutnya.

Kiat-kiat untuk menghilangkan kebiasaan buruk yaitu:

  1. Pikirkan dampak buruknya lebih sering daripada kenikmatan sesaat dari kebiasaan kita
  2. Ketika suatu kebiasaan buruk berulang, cepatlah berbalik kembali dengan mengakuinya, dan memaafkan diri. Jangan menghukum diri dengan semakin menceburkan diri ke dalamnya.
  3. Mohon bantuan Roh Kudus lewat doa, dan lewat perenungan firman Tuhan.
  4. Alihkan kebiasaan buruk kita ke kebiasaan yang lebih baik. Contoh: ke nightclub gantikan ke sport hall, makan tidak sehat digantikan dengan makan yang mementingkan keseimbangan gizi dst.
  5. Minta bantuan teman baik untuk mengingatkan kita.

"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala. Semuanya itu mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya tetapi sekarang buanglah semuanya ini yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu." Kolose 3:5-11

10 Juni 2020

Ketaatan Setiap Hari

"Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari " Mazmur 96:2

Tiger Woods telah memenangkan banyak turnamen secara dramatis selama kariernya sebagai pegolf profesional. Namun, salah satu dari keberhasilannya yang terbesar boleh dikatakan tidak menarik perhatian sebab berkembang lambat selama 7 tahun. Selama kurun masa itu, Tiger berhasil dalam 142 turnamen berturut-turut -- melebihi semua pemain dalam sejarah olahraga golf di Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan kekuatan dari komitmen, konsistensi, dan keyakinannya untuk pantang menyerah.

Baru-baru ini saya merasa tertantang oleh pernyataan seorang teman tentang keinginannya yang semakin besar untuk mengikut Tuhan dengan "taat setiap hari, bukannya taat secara dramatis". Apakah itu yang terjadi dalam kehidupan iman saya dalam Yesus Kristus? Apakah saya konsisten, atau berjalan tak menentu? Apakah saya dapat diandalkan, atau tidak dapat dipercaya?

Ada peristiwa-peristiwa iman yang besar dalam hidup kita, tetapi pilihan-pilihan kita setiap hari untuk taat kepada Kristus mengungkapkan dengan baik kasih kita yang tak putus-putusnya kepada Dia. Mazmur 96, yang merupakan panggilan untuk bersaksi dan memuji Tuhan, berkata, "Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang daripada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa" (ayat 2,3).

Apabila kita secara konsisten taat kepada Tuhan, kita akan menyatakan kasih dan kuasa-Nya setiap hari. Seiring berjalannya waktu, hidup dalam ketaatan setiap hari akan menjadi kesaksian yang luar biasa bagi Juru Selamat kita

MENJADI MURID MERUPAKAN SOAL KETAATAN
KEPADA RAJA ATAS SEGALA RAJA

09 Juni 2020

Keluarga Sangatlah Berharga

“Aku sudah tak sabar lagi menunggu liburan kenaikan kelas, papaku janji kalo aku naik kelas, dia akan mengajakku liburan bersama dan kami akan pergi memancing di danau, kami akan naik perahu kecil, lalu berhenti di tengah untuk menunggu ikan untuk dipancing ….!”, cerita si anak pada seluruh temannya di kelas, sambil dia terus membanggakan ayahnya yang ahli dalam memancing. Mata si anak berbinar-binar saat menceritakan rencana liburan mereka.

Sejak janji itu diucapkan ayahnya 2 bulan yang lalu, si anak selalu menghitung hari, setiap hari dia melingkari kalender di rumahnya, hatinya sudah tidak sabar ! Setiap kali mengingat janji sang ayah, hatinya sangat bersukacita, bahkan kadang-kadang ibunya menjadikan janji itu sebagai senjata supaya sang anak tunduk. Seperti, kemarin sang anak tidak mau makan, karena kehabisan akal si ibu mendapat ide untuk mengancam, “Nanti kalo kamu tidak mau makan, ayah tidak jadi mengajak kamu memancing lho!”, ternyata ancaman itu ampuh juga. Intinya sang anak mau melakukan perintah ibunya asalkan acara memancing bersama ayahnya tetap terlaksana.

Tepat 1 hari menjelang hari yang dinanti-nantikan itu, sang ayah mengetuk pintu kamar sang anak, dilihatnya sang anak sedang sibuk mempersiapkan acara liburan spesialnya bersama sang ayah. Semua peralatan memancing sudah siap di kamar anaknya, sepatu, topi, baju, celana, handuk, umpan, alat pancing, dll. Dalam hati sang ayah merasa tak tega, tapi dia memberanikan diri berkata “Sayang…, papa mau minta maaf, kamu jangan kecewa yach, besok papa terpaksa harus membatalkan acara memancing kita …”, Sang anak terbelalak tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca, ” Papahhh !” seru anak tersebut. “Sayang…., kita kan masih ada hari lain, kebetulan besok papa ada rapat mendadak, dan ada tugas kantor yang sangat penting dan tidak bisa papa tinggalkan”.

Sang anak benar-benar sangat kecewa, dia naik ke tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya. Sambil terisak-isak sang anak bertanya, “Papa, berapa sich gaji yang papa terima dari kantor per hari?” Sang ayah menjadi terheran-heran, tetapi untuk menghibur anaknya sang ayah menjawab sejumlah nilai nominal. Kemudian Si anak pergi keluar meninggalkan ayahnya yang masih duduk terheran-heran di kamar. Setelah 15 menit kemudian si anak datang, di tangannya menggenggam uang logam bercampur dengan uang kertas dan seluruh uang itu diletakkan di hadapan ayahnya.

Belum selesai kebingungan ayahnya, sang anak berkata, “Papa ini seluruh isi tabunganku yang sudah akku kumpulkan selama hampir 3 tahun, aku pecahkan celenganku barusan, ternyata jumlahnya pas untuk menggantikan gaji papa selama 1 hari untuk acara besok. Papa maukah papa pergi memancing bersamaku besok ???” dengan wajah memelas.

Sang ayah tidak kuat menahan haru, dipeluknya anaknya erat-erat.

Seringkali kita sebagai orang tua tidak sadar, bahwa WAKTU merupakan salah satu BAHASA CINTA untuk keluarga kita. Waktu adalah sesuatu yang sangat dirindukan oleh keluarga kita, terutama anak-anak. Tanpa sadar kita para orang tua telah mengambil banyak waktu yang harusnya dimiliki oleh anak-anak kita. Waktu yang semestinya menjadi MILIK sang anak, kita tukar dengan :

Kesibukan pribadi. Kisah diatas adalah kisah seorang ayah yang menukar waktu untuk anaknya dengan kesibukan pekerjaan. Pergi ke kantor saat anak masih terlelap tidur, pulang kantor tidak bertemu dengan anak karena anak sudah pulas tertidur. Adapula orang tua yang menukar waktu untuk anaknya dengan sibuk pelayanan di gereja, dari hari Senin sampai hari Minggu selalu ada kegiatan di gereja. Ada juga ibu ibu yang sibuk arisan, dan seandainya dia di rumah, tapi perhatiannya hanya tertuju pada acara-acara televisi. Sang anak dibiarkan berkembang dan bertumbuh begitu saja.

Adapula orang tua yang menggantikan waktu bersama anak dengan fasilitas permainan dan hadiah-hadiah. Beberapa waktu yang lalu, seorang artis yang terancam bercerai berkata, kelak kami berpisah anak-anak akan baik-baik saja. Katanya, bagi mereka yang penting ada play station untuk anak-anak sudah cukup. Bagaimana mungkin dia berpikir play station bisa menggantikan waktu anak bersama orang tua ? Banyak orang tua menukar waktu untuk anak dengan membelikan mainan-mainan yang menyukakan hati anaknya, dan menganggap hal itu sudah cukup membuat diam dan anak puas.

Waktu seringkali diganti dengan kebebasan tanpa kendali untuk anak-anak. Banyak kasus yang kita lihat, akibat ayah dan ibu sibuk bekerja, mereka sepertinya meng”excuse” anaknya berbuat sesuka hati. Mereka tidak tega untuk melarang anaknya meskipun tindakan si anak salah. Mungkin mereka pikir, sang anak sudah kecewa karena orang tua tidak punya waktu, masakan harus kecewa lagi dengan larangan dan aturan-aturan yang akan mengecewakan mereka, sehingga anak bebas tanpa kendali. Mereka menjadi orang tua yang sangat permisive yang tidak mampu menetapkan aturan, mendidik dan mendisiplin anak. Seperti mengijinkan anaknya bermain dan pergi sesuka hati tanpa batasan, berjalan-jalan tanpa batasan. Renungkanlah … apa yang terjadi apabila anak-anak bertumbuh tanpa didikan ?

Dan …. hal-hal lainnya yang bisa menggantikan posisi orang tua. Suatu hari sepasang suami istri yang notabene keduanya lulusan luar negeri mengeluh, karena sekarang anaknya begitu hafal lagu-lagu dangdut di televisi sekaligus dengan gerakan-gerakannya yang “vulgar”. Belum lagi ketika anaknya demam, yang dipanggil-panggil si anak adalah “Siti”. Padahal sang ibu sudah membujuk sedemikian rupa agar si anak mau tidu di kamar bersama orang tua, tapi anaknya ngotot minta ditemani dan tidur bersama Siti. Menyedihkan bukan ? Ini dikarenakan sang orang tua memberikan anaknya diasuh, dididik oleh pembantu, atau suster dan sebagainya. Jadilah sang anak bertumbuh serupa dengan pengasuhnya.

Terkadang anak dijejalkan dengan berbagai macam kegiatan sehingga anak sibuk dan melupakan waktunya dengan orang tua. Semakin banyak les atau aktivitas, orang tua berpikir anak menjadi semakin hebat karena akan semakin diperlengkapi. Kegiatan-kegiatan tersebut memang baik untuk ketrampilan anak, tetapi hal-hal tersebut tetap tidak dapat menggantikan waktu yang seharusnya diberikan oleh orang tua kepada anaknya.

Kita sangat perlu menyediakan waktu untuk keluarga dan anak-anak kita, karena :

Waktu untuk keluarga itu TERBATAS.

Pengkotbah 3:1 menuliskan, “Untuk segala sesuatu ada masanya (waktunya) ….”Waktu berarti kesempatan yang terbatas (moment waktu selalu ada batas akhirnya). Pakailah waktu yang ada sebaik-baiknya untuk bersama keluarga selama Tuhan masih berikan kesempatan. Jangan sampai menyesal di kemudian hari !

Ada seorang ibu yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga setiap hari putri kecilnya selalu dimandikan oleh susternya. Suatu ketika … sang anak minta dimandikan oleh ibunya, tetapi ibunya selalu berkata, “ …. Nanti …. nanti ….. dan nanti …. !” Satu minggu berlalu, sang anak mengalami kecelakaan dan dipanggil oleh Tuhan. Dan sampai hari ini, sang ibu sangat menyesal karena tidak pernah memperoleh kesempatan lagi untuk memandikan putrinya.

Waktu untuk keluarga itu berharga dan mahal.

Dalam hidup ini kita harus membuat skala Prioritas untuk waktu yang kita pergunakan. Prioritas yang benar adalah : Tempatkan Tuhan sebagai yang pertama dan utama, Keluarga adalah prioritas kedua setelah Tuhan. Berikutnya adalah pekerjaan/karir/ bisnis, diikuti prioritas selanjutnya yaitu pelayanan. Jadi jangan menganggap remeh waktu untuk keluarga, karena hal itu penting di mata Tuhan.

Waktu untuk keluarga adalah Investasi bagi pertumbuhan keluarga.

Ibarat sebuah benih untuk menjadi pohon yang besar diperlukan waktu yang panjang. Tidak mungkin langsung/instant menjadi pohon yang besar, harus ada proses waktu yang harus dilewati. Demikian pula dengan keluarga kita, jika ingin keluarga kita bertumbuh semakin berkualitas, harus ada WAKTU yang Di-INVESTASIKAN. Mungkin kegiatan atau les baik untuk ketrampilan anak-anak kita, tetapi “kehadiran kita” sebagai orang tua sangat berdampak bagi anak untuk pengembangan kepribadiannya, rasa percaya dirinya, pembentukan karakternya dan anak lebih mengenal siapa dirinya.

Bukankah orang yang berhasil dalam hidupnya tidak hanya ditentukan berapa banyak ketrampilan yang dia miliki, tetapi justru sebagian besar ditentukan oleh karakter dan bagaimana ia memberi respon pada keadaan yang terjadi.

Jadi, semakin banyak waktu untuk keluarga berarti semakin banyak peluang keluarga untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik.

Waktu untuk keluarga akan membuat kenangan yang tak terlupakan seumur hidup.

Kenangan terbentuk karena proses waktu !! Biarlah kita membuat kenangan indah dalam keluarga kita melalui waktu bersama keluarga. Seandainya kita harus membuat pilihan, apakah akan berekreasi bersama dengan keluarga, membeli furniture baru atau menyimpan tabungan yang banyak di dalam bank ? Pergilah berekreasi !!! Furniture bisa menjadi kotor, tergores dan akan berakhir suatu saat di gudang. Apabila kita terus menunggu waktu “nanti sampai kita punya uang yang cukup banyak …” kita tidak akan pernah sempat berekreasi, karena selalu akan merasa tabungan kita kurang banyak dan uang pun dapat habis terpakai. Tetapi kenangan tidak akan hilang selamanya, bahkan sampai kita tidak di bumi ini sekalipun kenangan akan tetap ada di hati anak-anak kita dan menjadi sebuah sejarah. Bayangkan kelak setelah mereka dewasa mereka akan tersenyum bahagia saat melihat album foto yang berisi liburan yang indah dan berkesan dengan kedua orang tuanya.

“ Kenangan lebih tak terhapuskan dari pada tinta.” – Aninta Loos

Waktu untuk keluarga adalah sarana untuk membangun hubungan semakin erat.

Salah satu hal terpenting dalam membangun keluarga adalah HUBUNGAN, Hubungan hanya bisa terbangun oleh waktu kebersamaan.

Ada orang tua yang demi alasan keberhasilan anaknya kelak, sejak SD sudah mengirimkan anaknya sekolah ke luar negeri, atau mengasramakan anaknya sejak SD. Setelah dewasa, anaknya menjadi orang yang cukup sukses. Tetapi mereka tidak memiliki hubungan yang baik. Sang anak cenderung memberontak pada orang tua, mereka saling tidak mengerti keinginan masing-masing karena tidak adanya hubungan yang terjalin selama ini.

“ Tidak ada Waktu = Tidak ada Hubungan”

Apa yang kita pillih saat ini sebagai orang tua ?

Marilah kita menginvestasikan waktu yang berharga bagi keluarga kita.

06 Juni 2020

01 Juni 2020

Rahasia mengubah setiap masalah menjadi Mujizat


Yesus berkata kepadanya, "'Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu." Ini adalah perintah yang pertama dan yang terutama. 

Dan yang kedua yang sama dengan itu adalah: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi ". (Matius 22:37 - 40)

Mengasihi Tuhan dengan segenap hati merupakan hal yang sangat penting untuk kita miliki dalam kehidupan kita. Karena hubungan kita dengan Allah sangat mempengaruhi hubungan kita dengan orang-orang yang ada didalam hidup kita.

Apa yang terjadi di dalam hati kita mencerminkan apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita. 

Mungkin banyak diantara kita seringkali mengatakan bahwa mereka sudah mengasihi Tuhan, sedangkan mengasihi Tuhan tidak cukup hanya sebatas ucapan, sudahkah kita mengasihi Tuhan sama seperti sesorang yang sedang jatuh cinta, sehingga kita tidak bisa melewati satu haripun tanpa memiliki hubungan dengan Dia. 

seringkali tanpa kita sadari hilangnya pengucapan syukur dalam Hidup kita membuat Hati kita menjadi sulit untuk mengasihi Allah?

kita seringkali dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, “Kenapa ini terjadi ?, kenapa Tuhan menginjinkan hal ini terjadi ?!” Mengapa Tuhan tidak mencegah hal itu? mengapa Allah menginjinkan kita untuk mengalami situasi yang menyakitkan?.

Didalam Rima 8:28 mengatakan, "bahwa segala sesuatu bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."

Jika hari-hari ini kita memiliki sebuah situasi dan keadaan yang membuat kita sulit untuk bersyukur dan kita tidak dapat melihat jalan untuk bisa keluar dari setiap masalah kita."Ingatlah bahwa janji Tuhan dalam Roma 8:28 adalah bersyarat,” bagi mereka yang mengasihi Tuhan”.

Jika ada bagian dari hati Anda yang tidak tahu cara berterima kasih dan bersyukur, itu karena hati kita sesungguhnya tidak mengasihi Allah. Tanpa disadari dengan keadaan hati seperti itu, kita sedang mencegah terjadinya sebuah situasi "bahwa Tuhan bekerja sama untuk kebaikan kita". Namun ketika hati kita bisa bersyukur ditengah-tengah pergumulan yang sedang kita hadapi dan kita memilih untuk tetap percaya dan  mengasihi Tuhan. Maka Tuhan sanggup memutarbalik dan merubah masalah yang kita alami menjadi sebuah kesaksian untuk Tuhan menyatakan Mujizatnya dalam hidup anda.

Kita tidak akan menerima apapun dari Tuhan sampai kita bisa bersyukur. 

Apa yang terjadi ketika hati kita dapat bersyukur, maka kasih, kedamaian, dan sukacita akan penyertaan Allah akan kita rasakan kembali dalam hidup kita. 

Mazmur 100:4-5 katakan, "masukkan ke dalam pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, dan ke pelataran-Nya dengan puji-pujian. Bersyukurlah kepada-Nya, dan pujilah nama-Nya. Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya yang kekal, dan kebenaran-Nya akan mengubah segala situasi dan keadaaan yang sulit sekalipun bahkan yang mustahil sekalip[un menjadi kebaikan dan mujizat dalam hidup kita.

Belajarlah Mengucap Syukur dalam Segala Perkara dan tetaplah mengasihi Tuhan,  Maka Tuhan  akan menyatakan mujizatnya didalam setiap  masalah yang kita hadapi .GBU